by

Hari Buruh Tahun Ini Berselimut Kabut PHK

Penulis : Asep Nugraha

Hari buruh atau May Day diperingati setiap tahunnya sebagai perayaan keberhasilan hak ekonomi dan sosial para buruh. Kala itu, pada puncak revolusi industri para buruh diwajibkan kerja 10-16 jam per hari dengan upah yang tidak sebanding. Setiap tahunnya ribuan buruh pria, wanita, dan anak-anak banyak yang meninggal karena kondisi kerja yang tidak manusiawi. Organisasi buruh saat itu, Federation of Organized Trades and Labor Union (FOTLU) menggelar konferensi di Chicago tahun 1884. Hasil konferensi memproklamirkan keputusan, jam kerja para buruh harus dibatasi maksimal 8 jam dan wajib diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Di Indonesia sendiri, hari buruh rutin dirayakan mulai dari era presiden Soekarno dan resmi dijadikan hari libur nasional pada zaman reformasi presiden SBY setelah melalui perjuangan panjang. Hak-hak buruh pun sekarang sudah diatur UU No.21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh.

Tahun ini perayaan May Day atau Hari Buruh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas pengerahan massa para buruh di larang karena terkait kebijakan physical distancing menghadapi pandemi global virus Corona.

Sedihnya lagi hari buruh tahun ini diselimuti kabut pemutusan hubungan kerja (PHK) global seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia, menurut data Kementerian Ketenagakerjaan hingga 19 April 2020 lalu setidaknya ada 1,94 juta pekerja dari 114.340 perusahaan yang sudah dirumahkan atau PHK karena wabah pandemi virus Corona. Derita buruh pun kian bertambah karena hak-hak mereka diabaikan, seperti gaji dipotong, tunjangan hari raya (THR) ditunda, dan pesangon tidak dibayarkan. Meskipun demo dilarang serikat buruh tetap bergerak melanjutkan perjuangannya di media-media online agar hak-hak buruh yang dipinggirkan tetap ditunaikan para pengusaha.

Lalu, apa solusi pemerintah mengatasi gelombang PHK di tengah pandemi ?

Menteri Koordinator Bidang Perekenomian Airlangga Hartato mengatakan pemerintah sudah mengantisipasi terjadinya gelombang PHK dan salah satunya meluncurkan program Kartu Pra Kerja yang mulai berlaku per 11 April 2020. Pemerintah menganggap program ini efektif meminimalkan dampak gelombang PHK karena dampak pandemi. Rencananya Kartu Pra Kerja akan menargetkan 5,6 juta orang di 2020 dengan anggaran sebesar Rp 20 trilyun. Paket Kartu Pra Kerja sendiri berupa bantuan pelatihan dan insentif sebesar Rp 3.550.000 per peserta. Tujuan dari program ini diharapkan dapat membantu daya beli masyarakat yang kehilangan pendapatan atau pekerjaan.

Selain program Kartu Pra Kerja, pemerintah juga merancang program Padat Karya Tunai yang dianggarkan sebesar Rp 16,9 trilyun yang tersebar di beberapa kementrian. Rinciannya sebagai berikut :
a. Kementrian Desa yang akan menarget 59 ribu tenaga kerja
b. Kementrian PUPR menarget 530 tenaga kerja
c. Kementrian Perikanan dan Kelautan
d. Kementrian Perhubungan
e. Polri yang akan meluncurkan Program Keselamatan.

Anggaran yang diserap oleh kementrian lebih dari Rp 10 trilyun dan Polri untuk program serupa menyerap anggaran 360 miliar.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk mengantisipasi dampak terburuk karena krisis ekonomi dan pandemi ini. Sistem kontrol yang ketat sangat diperlukan agar program yang sudah dirancang tepat sasaran sebagai bagian sistem jaringan pengaman sosial.

Kita tentunya berharap dan ikut mendorong pemerintah menciptakan lapangan kerja baru. Dorongan ini tentu tidak mudah tantangannya karena pelaku usaha juga merasakan dampak multikrisis tahun ini. Cash flow keuangan para pelaku usaha mengalami sesak nafas bahkan berhenti karena daya beli turun drastis.

Para pekerja yang terkena dampak PHK juga saatnya berpikir ulang untuk mencari ide-ide baru agar berdaya kembali secara ekonomi dan sosial. Saatnya melatih mental dan keahlian baru agar bisa berpindah kelas menjadi pelaku usaha. Meratapi nasib dan berkeluh kesah menyalahkan keadaan hanya mengenang derita, sedih tak berujung. Status sebagai orang gajian boleh berhenti namun life must go on. Hidup mesti berlanjut selama jantung masih berdetak. Mulai hari ini ide-ide mencari usaha baru harus mulai dirancang sesulit apa pun kondisinya. Imunitas mental dan jejaring bisnis harus dikuatkan agar konsisten menjalani proses menjadi pelaku usaha yang sukses.

Selamat merayakan hari buruh dengan segala kesederhanaan. Semoga wabah pandemi ini cepat berakhir dan makin menguatkan imunitas mental, kreatifitas dan semangat kita dalam berusaha agar secepatnya bisa meloloskan diri dari jeratan krisis. Badai pasti berlalu.

Cimahi 05.05.2020

(Rilis/Redaksi)

Comment

Kategori Terkait