by

Meluruskan Tuduhan Yang Menyesatkan,Tanggapan Atas Tulisan Berjudul Partai Gelora Jadi Puncak Kekebalan PKS

Oleh: Shobri
Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 2001-2016

Membaca tulisan saudara Nuradi Sulaiman Harun yang mengatasnamakan dirinya sebagai pemerhati partai, dimana tulisannya lebih kepada tuduhan terhadap mantan qiyadah PKS yang kini menjadi ketua umum partai Gelora “Anis Matta” sebagai orang yang menebar kebencian terhadap para Qiyadah PKS adalah sebuah kekeliruan besar dan menyesatkan.

Jika melihat dari isi tulisannya sejatinya saudara Penulis adalah seorang yang sangat dekat dengan PKS, sebab isi tulisannya tidak mencerminkan jati diri seorang pemerhati partai melainkan lebih kentara sebagai seorang kader partai. Namun jika dirinya seorang kader PKS tapi mengatasnamakan pemerhati partai supaya tulisannya dianggap obyektif dan ilmiah, maka penulis telah melakukan kebohongan publik dan itu adalah kejahatan.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini dalam rangka meluruskan tuduhan yang salah dan menyesatkan itu, maka saya perlu menyampaikan siapa jati diri saya sesungguhnya. Saya sampaikan bahwa saya adalah kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sejak tahun 2001 hingga 2016. Saya tahu betul luar dalam PKS. Saya tau betul doktrinasi yang dilakukan PKS kepada kami para kader dan sebagai pemerhati mungkin saudara Penulis tidak banyak mengetahui tentang doktrin-doktrin itu.

Saya keluar dari PKS karena saya melihat pengelolaan partai tidak lagi mengedepankan ukhuwah (persatuan). Yang diperlihatkan justru keangkuhan para punggawa yang taklimat-taklimatnya bak sabda nabi yang tidak boleh dibantah oleh para kader. Sebagai kader bersuarapun kami harus dikekang dengan sabda pandika raja “sami’na wa atho’na”. tidak ada yang salah dari kalimat ini, bahkan kalimat ini adalah potongan ayat Al Qur’an, namun jika kalimat tersebut ditempatkan bukan pada tempatnya maka itulah yang menjadi kesalahan fatal.

Ok brother..

Saya mulai dari judul yang diangkat oleh saudara Penulis “Partai Gelora Jadi Puncak Kekebalan PKS” judul yang cantik, bombastis, exelente. Sepintas ketika membaca judul ini, siapapun akan tertarik pada isinya sehingga tertarik pula untuk membacanya. Wajar jika tulisan ini direapload oleh beberapa media online yang barangkali berafiliasi ke PKS atau justru media yang ingin memperkeruh suasana perpolitikan dan mengadu domba antara kader PKS dan Gelora.

Judul ini menyelipkan pesan kepada siapapun para pembaca, bahwa penulis ingin mengatakan PKS itu tangguh bak karang di lautan. Meskipun beribu kali dihempas ombak dan badai, ia tetap kokoh tak bergeming walaupun hanya satu centi sekalipun.

Judul itu juga mengirim pesan kesombongan, dimana penulis ingin mengatakan bahwa PKS itu kuat dan tidak ada kekuatan yang mampu menggoyahkannya karena terbukti ketika digoyang dari luar seperti kasus video porno, dokumen fiktif, sampai isu korupsi impor daging sapi (kasus LHI) PKS tetap kokoh berdiri. Saat ini dihantam dari dalam (kasus pemecatan Fahri Hamzah) yang melahirkan gerakan arah baru dan gerakan itu bermetamorposis menjadi gerakan politik, PKS-pun masih tetap tegak berdiri kokoh. Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan oleh saudara Penulis.

Tapi sayang dari narasinya, tulisan ini ditulis dengan emosional tinggi dan subyektifitas yang kelewat batas. Nampak sekali sebagai pemerhati partai, penulis tidak menggali informasi dari berbagai sumber, bahkan cendrung informasi yang ditampilkan bersumber dari satu sumber atau bahkan sumbernya halusinasi yang dirasakan dan dirangkai sendiri oleh penulis menjadi kata-kata bermakna. Akibatnya justru tulisan tersebut menjadi sangat subyektif, menebar opini kebencian dan fatalnya sangat menyesatkan.

Penulis lupa bahwa nakhoda penyelamat PKS pada saat partai itu dihantam ombak hingga oleng dan para kader tertunduk hampir tidak mampu berdiri tegak adalah seseorang yang selama ini menanggung beribu fitnah yang tidak pernah dia balas. Ya penyelamat itu bernama Anis Matta. Pada saat itu kami para kader tertunduk lesu, berselimut malu. Jargon partai yang selama ini tertancap menghujam ke dasar bumi dan menjadi pengokoh partai dalam bergerak “bersih, peduli, professional” hancur lebur. Langit seakan runtuh, dan kami para kader merasa terkubur.

Di tengah malu yang memuncak, harapan yang sirnah, kekuatan yang hilang, tampillah seorang anak muda bernama Anis Matta, mampu membangkitkan semangat para kader. Dengan tangisan para kader yang membahana diseluruh wilayah dan pelosok negeri dan cucuran air mata haru, kami para kader bertakbir dan bangkit menegakkan badan. Kami kader yang tadinya tertunduk lesu berselimut malu, bangkit dan melakukan perlawanan. Fahri Hamzah (FH) yang akhirnya dipecat oleh PKS, menjadi satu-satunya orang yang bersuara lantang atas penetapan LHI sebagai tersangka Oleh KPK. FH menggadaikan harga dirinya melawan arus KPK yang pada saat itu sedang berada di langit ke tujuh, kekuatan apapun yang melawan KPK tumbang. Bahkan buaya melawan cicak pada saat itu,(kasus cicak dan buaya) buayanya yang tumbang.

Begitu hebat dan superpowernya KPK, namun FH terus melakukan perlawanan. Semua partai politik mencibir PKS. Bahkan tidak sedikit pengamat juga ahli hukum yang pro KPK menuduh FH dan PKS pro koruptor. Semua itu tercatat dengan tinta yang hingga saat ini tidak bisa hilang. Dan kini semua narasi yang disampaikan oleh FH tentang KPK hampir semuanya terbukti. Semua partai mulai jengah, bahwa beribu OTT terjadi tetapi korupsi tidak pula teratasi. Karena yang terjadi bukanlah mencegah terjadinya korupsi akan tetapi festivalisasi penangkapan para terduga korupsi.

Narasi yang dibangun oleh saudara Penulis pada awal paragrafnya dimana ia menuduh adanya gerakan bawah tanah yang dipersiapkan oleh mantan pengurus DPP PKS yang kini menjadi pimpinan partai Gelora. Gerakan tersebut tersusun rapi dan sistematis, dirancang sedemikian rupa sehingga kesannya seperti ketum Gelora dan Wakilnya terzhalimi adalah narasi yang menyesatkan, sebab kami kader PKS lebih tau apa yang terjadi ketimbang penulis yang hanya sebagai pemerhati partai.

Konflik internal itu awalnya terjadi karena kasus pemecatan Fahri Hamzah (FH) yang oleh kami sebagian kader merasa ada kejanggalan. Bayanat-bayanat yang kami dapatkan adalah bayanat sepihak yang tidak ada sama sekali hak jawab dari yang tertuduh. Itulah sebabnya sebagian kami kader partai yang rasional menempatkan persoalan secara proporsional, menginginkan ishlah di antara qiyadah dan mendorong agar mereka duduk bareng menyelesaikan persoalan.

Tapi lagi lagi bayanat doktrin yang kami dapatkan, kami kudu sami’na wa atho’na atas titah raja yang seolah berkedudukan sama dengan firman Tuhan. Kami wajib taat dan patuh pada keputusan pimpinan. Hal itu dsampaikan oleh para murobbi kami dalam liqoat-liqoat mingguan, tanpa kami diberikan kesempatan mencari titik terang jawaban alternative atas konflik yang dipertontonkan.

Kami ini kader-kader terdidik, para sarjana dan bahkan tidak sedikit sudah magister yang masih memiliki otak cemerlang dan tidak tumpul alias buntu. Kami membutuhkan jawaban pasti berstandar syar’i. Pada saat itu yang kami butuhkan adalah jawaban bahwa FH dipecat karena melanggar hukum syariat bla..bla..bla.. Tapi jangankan alasan melanggar syariat, bahkan apa yang dilanggar, apa yang dipersalahkan hingga saat inipun tidak jelas adanya.

Tidak hanya FH yang dipecat bahkan, DPP makin menggila, Anis Matta (AM) yang tadinya duduk sebagai pengurus dengan tugas hubungan luar negeri-pun namanya dihapus dari kepengurusan. Para pengurus daerah yang dianggap loyal terhadap AM dan FH pun dipreteli dan dipecat. Itu semua tidak ada alasan yang jelas dan bagi kami para kader rasional sangat janggal. Berbeda 180 derajat, pada saat AM memegang presiden partai, sekeras apapun dirinya dikeritik, sehebat apapun perbedaan terjadi, bahkan sedemikian dahsyatnya fitnah yang menyasarnya, namun tidak pernah ada cerita kader partai dipreteli apalagi dipecat-pecati. (https://www.infomenia.net/2018/04/loyalis-anis-matta-dipecat-politikus.html)

Barangkali ini tidak diketahui oleh penulis karena memang dirinya hanya sebatas pemerhati partai sehingga tuduhan-t

uduhan dalam tulisannya lebih menyasar pada personality someone bukan melihat secara obyektif sabab musabab konflik internal PKS hingga berujung seperti sekarang.

Lahirnya Garbi dan Gelora

Berawal dari ketidak jelasan dan ketidak adilan inilah para kader arus bawah yang kecewa dengan sikap pimpinan partai yang arogan, anti kritik dengan melakukan berbagai pemecatan dengan cara tidak wajar, membuat satu gerakan yang dinamakan Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi). Gerakan ini tidak dibuat oleh Anis Matta. Gerakan ini lahir pada saat Anis Matta justru masih menjabat struktural di PKS. Diakui memang gerakan ini terinspirasi dari ide-ide besar Anis Matta, namun sekali lagi gerakan ini tidak digawangi oleh Anis Matta. Adapun FH yang dikenal masyarakat luas sebagai singa parlemen juga bukan penggerak utama Garbi. FH hanya dijadikan sebagai icon dalam gerakan. Bahkan gerakan ini tidak dikomandoi oleh siapapun baik oleh AM, FH, maupun MS.

Gerakan ini mengalir dari satu daerah ke daerah lain karena keperihatinan. Gerakan ini menjalar menembus batas karena ide dan narasinya yang brilian. Gerakan ini tidak didanai oleh siapapun, gerakan ini didanai dari kantong-kantong kami yang mau terlibat dan berkontribusi. Jadi sangat menyesatkan jika saudara Penulis menuduh gerakan yang kini telah melahirkan gerakan politik (partai Gelora) tesebut, dipersiapkan untuk melemahkan PKS. Sekali lagi itu tuduhan menyesatkan. Bukankah dia mengatakan bahwa PKS itu terlalu kuat untuk ditumbangkan apalagi oleh Gelora yang masih bau orok dalam kelahirannya.

Partai Gelora lahir bukan untuk melemahkan partai lain, tapi Gelora lahir sebaliknya untuk mengajak seluruh elemen bangsa agar bersatu membawa Indonesia menjadi kekuatan 5 besar dunia termasuk salah satunya mengajak Partai Keadilan Sejahtera.

Barangkali saudara Penulis tidak mengikuti detik demi detik perkembangan konflik yang terjadi di partai itu. Sementara sumber yang dijadikan referensi adalah sumber dari sepihak yang mungkin saja sudah diramu dan diragi serta digiring untuk mendegradasi pihak tertuduh sehingga seolah AM dan FH-lah yang menjadi biang akar masalah perpecahan di internal PKS. Sekali lagi saya tegaskan bahwa kami para kader yang terlibat di PKS yang lebih tau dari pada saudara yang hanya sekedar seorang pemerhati partai dari luar sana.

Lahirnya partai Gelora juga tidak semerta dari AM dan FH. Lahirnya partai Gelora adalah atas desakan para aktivis Garbi dari masing-masing daerah yang ingin beraktualisasi. Pada awalnya Garbi ditantang oleh kader-kader yang masih setia dengan PKS untuk mendirikan partai politik. Bahkan Mardani Ali Sera setengah mencibir, melontarkan tantangannya. Ia mengatakan kalo Garbi mau, buat saja partai politik, tapi ingat membuat parpol itu berat.

“Kalau mau bikin saja partai, welcome to the jungle. Tapi pesannya, bikin partai itu berat,” kata Mardani di Gedung DPR, Kompas.com, Kamis (11/7/2019)

Tantangan itu dijawab oleh aktivis Garbi dengan perjuangan menembus batas. Partai Gelora lahir dengan cara yang unik.

Tepatnya hari Rabu, 28 Oktober 2019, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, lahirlah Partai Baru bernama Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Partai Gelora). Pendirian ini dikukuhkan dalam bentuk piagam pendirian partai Gelora. Dan inilah keunikan pertama.

Pada hari Selasa, 10 November 2019, betepatan dengan hari Pahlawan Nasional, Partai Gelora dideklarasikan dengan dilantiknya pengurus DPW dari 34 provinsi di seluruh Indonesia oleh DPN. Dan inilah keunikan kedua.

Pada hari Selasa, 31 Maret 2020, Partai Gelora didaftarkan ke Kemenkumham, dalam suasana pandemi covid-19 dengan cara daring, dimana pendaftaran dilakukan melalui teleconference yang diterima langsung oleh Menkumham, Yasonna Laoly. Dan model pendaftaran seperti ini baru pertama kali sepanjang sejarah Partai Politik di Indonesia. Inilah keunikan ketiga

Pada hari Selasa, 19 Mei 2020, Surat Keterangan (SK) pendirian Partai Gelora ditandatangani oleh Menkumham Yasonna, masih dalam masa pandemic covid-19, setelah verifikasi seluruh persyaratan partai dianggap lengkap. Dan ini merupakan

keunikan keempat.

Tepatnya pada Selasa, 2 Juni 2020, SK Gelora diserahkan secara daring oleh menteri Yasonna. Masih dalam masa pandemi pula. Inilah keunikan kelima.

Kini partai Gelora terus merambah ke berbagai pelosok. Namun demikian cibiran tak henti pula didapatnya. Para nyinyiriun kini menantang partai ini agar bisa bersaing walau hanya sekedar mampu lolos electoral threshold (ET). Dan dengan sangat rendah hati Anis Matta dalam sebuah momen acara menyampaikan bahwa kami tidak menjamin perjuangan ini berhasil yang penulis artikulasikan seolah pak AM mengatakan bahwa dirinya tidak menjamin partai ini lolos ET, tapi optimism yang tinggi atas izin Allah bisa partai Gelora akan melamppaui itu semua, Insya Allah.

Pernyataan tendensius berikutnya yang sangat menyesatkan dari saudara Penulis dalam tulisannya itu adalah penulis menuduh AM sebagai sosok yang mengajarkan kebencian dan mengajak melemahkan sosok-sosok yang diamanahkan mengemudi kendaraan PKS saat ini

Dengan keyakinan membabi buta, tanpa tabayyun dan bertanya, saudara Penulis menuduh Partai Gelora Dan AM dengan tuduhan keji. Narasi yang digunakan adalah narasi yang sangat menyesatkan:

“Sehebat apapun partai Gelora nantinya, itu semuanya didirikan di atas pondasi yang rapuh. Kenapa rapuh, karena yang pertama telah menanamkan kebencian kepada qiyadah yang sah. Bukankah dakwah ini adalah cinta, demi cinta kita siap mengorbankan apapun yang kita miliki”.

“Masih terngiang di telinga ini nasehat sosok yang mengajarkan cinta pada dakwah ini hingga tak berseri jumlahnya, bahkan ada juga buku yang berjudul “serial cinta”. Bagaimana mungkin hari ini beliau mengajarkan kebencian dan melemahkan sosok-sosok yang diamanahkan mengemudi kendaraan ini.?”.

Pernyataan ini memperlihatkan beliau terlalu banyak berhalusinasi. Tuduhan-tuduhan tidak berdasar yang dia lontarkan dengan menyebut AM mengajarkan kebencian, justru membongkar siapa jati diri penulis sesungguhnya. Ada misi adu domba yang dia jalankan. Seperti terselip bahwa saudara Penulis menginginkan permusuhan PKS-Gelora abadi sepanjang masa. Padahal fakta terbalik ditemukan di Gelora, dimana kadernya diajarkan untuk mengedepankan cinta dan siap bekerjasama dengan siapapun. Prinsip itu dituangkan dalam sebuah tagline yang berbunyi “kreatif kolaboratif”. Para kader partai Gelora dianjurkan untuk terus melakukan berbagai kreatifitas namun tetap mengedepankan kolaborasi atau kerjasama, karena sehebat apapun seseorang, suatu organisasi ia pasti membutuhkan kontribusi orang lain.

Sebagai seorang pemerhati partai, saudara Penulis telah melampaui batasannya menilai suatu organisasi apalagi dengan tuduhan-tudah keji yang tidak berdasar dan lebih kepada fitnah semata.

Maka sebagai sesama saudara seiman, saya ingin mengingatkan kepada saudaraku para kader PKS, demikian juga para qiyadah yang saya hormati, terlebih sebelumnya saya pernah berada pada barisan yang sama.

“Jangan mau diadu domba oleh orang yang nampak seperti membela, mengangkat dan memuji PKS, namun sebenarnya justru memiliki niat buruk untuk menghancurkan PKS”.

Saya berdo’a semoga nanti ada masanya dimana kaum muslimin dari berbagai pergerakan, dari berbagai partai politik, dari berbagai organisasi masyarakat akan bergabung, bersatu padu, mewujudkan tujuan yang sama yakni Indonesia menjadi satu kekuatan yang memimpin peradaban dunia. Insya Allah.

(Rilis/Redaksi)

Comment

Kategori Terkait