by

Bangun Desamu

Oleh :M.Imron Rosadi (Sekum DPW Partai Gelora Indonesia Propinsi Lampung)

Sejak tahun 2015, saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang berasal dari luar Bandar Lampung yang kebetulan pernah dan sedang berkuliah di beberapa kampus yang ada di kota ini.

“Nanti kalo selesai kuliah, segeralah pulang kampung. Bangun desamu”, bila saja saya punya kampung halaman, pasti saya akan pulang ke kampung, merintis usaha atau bekerja disana, dan tentunya ingin berkontribusi untuk kemajuan kampung dimana kita dilahirkan”.

Begitu kurang lebih, intisari dari obrolan-obrolan kami sekitar 6 tahun yang lalu. Dan namanya sebatas obrolan, sampai akhir tahun 2019, itu semua masih sebatas wacana dan obsesi yang terpendam.

Ntah kenapa setelah dalam satu tahun ini sering berinteraksi dan belajar dengan para penggerak di Payungi University
Obsesi-obsesi tadi kembali muncul dan nampaknya makin menggoda untuk segera di eksekusi.

Bermula dari statemen salah satu penggerak Payungi sekitar tahun 2019, bahwa anak-anak muda yang diberi kesempatan mengeyam pendidikan tinggi, dan aktiv di berbagai organisasi, selesai kuliah harus mau pulang ke kampung halaman untuk membangun desanya.

Bahkan ada pernyataan yang cukup menohok. “Temen-teman lulus kuliah terus diberi kesempatan menjadi fasilitator maupun pendamping masyarakat, jangan puas bertahun-tahun hanya menjadi pendamping desa ataupun fasilitator PKH.
Pasang target dari sekarang, 5 atau 10 tahun kedepan, harus berani maju mencalonkan diri sebagai Kepala Desa”

Yaa memang untuk berkontribusi tidak juga harus menjadi kepala desa.
Tapi saya berkeyakinan, bahwa cita-cita memperluas kebaikan bisa maksimal ketika itu dipoles dengan sebuah kebijakan.
Dan skup kebijakan terkecil dalam tata pemerintahan negara kita, itu ada di Desa.

Memang bila diperhatikan, khususnya di Provinsi Lampung. Sudah ada beberapa anak-anak muda yang dulunya aktiv di kampus, kini telah menjadi Kepala Desa, anggota DPRD tingkat I dan II, bahkan ada yang menjadi salah satu anggota DPD RI.

Hal ini tentu saja, semakin membuat semangat membuat sebuah road map bersama agar dalam 5, 10 tahun, dst, di Provinsi Lampung semakin banyak anak-anak muda yang mau dan siap membangun desanya.

Yaa, tapi ini bukan berarti mengecilkan peran tokoh-tokoh tua maupun muda yang mungkin (maaf tidak diberi kesempatan berkuliah), karena mereka juga berpeluang dan berkapasitas untuk membangun desa tempatnya lahir dan dibesarkan.

Saya sendiri termasuk orang yang muak dengan prilaku sikut sana sikut sini dalam aktivitas politik kita dari level pusat hingga skup terkecil bernama desa.

Lelah juga kita dengan hal tersebut.
Harusnya yang dikedepankan adalah semangat kolaborasi dan saling mengisi.
Support mensupport, dan sama-sama saling mengawasi.

Pendekatan yang tadi saya singgung kenapa anak-anak muda, alumni PT dan para aktivis ini harus mau dan siap untuk membangun desanya.
Yaa karena menurut pengalaman di lapangan, anak-anak muda ini secara wawasan harusnya lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Karana bagaimanapun, selama kurang lebih 4 sampai 6 atau 7 tahun mengeyam pendidikan di Perguruan Tinggi banyak memberikan input positif kapasitas berpikirnya.
Apalagi bila mereka dulunya sempat menjadi aktivis di kampus. Tentu saja kematangannya dalam mengelola manusia dengan segala potensi serta dinamikanya merupakan pengalaman berharga yang bisa diterapkan saat dirinya menjadi penggerak dan pemimpin di desanya.

Jadiii… Tunggu apa lagi
Hayuuk segera berkemas.
Bangun dan Majukan Desamu.(arn/red)

Comment

Kategori Terkait